Dampak Ekonomi Covid-19, Indonesia Negara ke-2 Tercepat Pemulihan Ekonomi Setelah China

Ajib Hamdani, Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan BPP Hipmi

Wikinews.id, Jakarta,- Morgan Stanley mengeluarkan hasil riset terbaru perkembangan negara-negara Asia dalam menghadapi pandemi Covid-19, dengan menempatkan Indonesia termasuk kategori negara kedua yang berhasil menangani pandemi secara ekonomi, setelah China.

Ajib Hamdani, Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan BPP Hipmi (31/5/2020) menilai ada 3 hal mendasar yang membuat hasil riset Morgan Stanley ini masuk akal.

“Ketika pemerintah bisa mengoptimalkan kebijakan fiskal dan kebijakan moneter, serta mengeksploitasi keunggulan komparatif diĀ  bonus demografi, maka justru pandemi ini bisa jadi momentum kebangkitan ekonomi, dan akhir 2020, secara kumulatif pertumbuhan ekonomi masih bisa positif kisaran 2%-3%”, terangnya.

Seperti diketahui pada tanggal 12 Mei 2020 DPR RI menyetujui Perppu nomor 1 tahun 2020, yang memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk membuat langkah-langkah penyelamatan ekonomi. Salah satunya adalah kewenangan fiskal, pemerintah bisa mendesain struktur APBN sesuai kebutuhan, bahkan defisit melebihi 3% selama 3 tahun ke depan. Pemerintah kemudian membuat aturan turunan dalam bentuk PP Nomor 23 tahun 2020 tentang Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan optimalisasi kewenangan fiskal dengan struktur defisit APBN sebesar 6,27%.

“Ruang fleksibilitas fiskal ini turut memberikan kontribusi positif terhadap confident level market. Tentunya, untuk kesehatan fiskal di masa mendatang, pemerintah tetap harus mengedepankan fiscal prudent”, ucapnya.

Menurutnya, indikator kondisi moneter dan ekonomi cukup kuat secara fundamental. Dengan Suku Bunga SBI saat ini di angka 5,1%. Dan Suku bunga komersial rata-rata yang berlaku di Indonesia kisaran 11%-14%.

“Dari sisi perbankan, masih terlihat bahwa BOPOnya (Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional, read) masih belum efisien, sedangkan dari sisi dunia usaha, masih terdapat potensi keuntungan ekonomi yang tinggi, karena masih bisa menopang tingkat suku bunga yang tinggi. Potensi efisiensi, peningkatan IT dan teknologi, masih akan bisa meningkatkan potensi ekonomi ke depannya”, jelasnya.

Lanjutnya, Indonesia dengan penduduk mencapai 270 juta orang merupakan pasar domestik yang akan mendorong sisi demand dan potensial membesarkan size the economy. Dengan tingkat dependency ratio yang kecil, lebih banyak usia produktif dibandingkan yang tidak produktif. Menurutnya bisa di artikan demografi Indonesia mengalami bonus.

“Jika dibandingkan dengan China, negara nomor 1 dalam riset Morgan Stanley, Indonesia masih memiliki keunggulan di sektor demografi ini, karena China mempunyai demografi bersifat grey population”, pungkasnya.(redaksi)

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *