Dimensi Kepemimpinan Suhendar, Sebuah Empirisme

Suhendar Bacalon walikota tangsel

Wikinews.id, Dalam banyak hal kita kadang lupa bahwa sejatinya seorang pemimpin adalah mereka yg dekat dengan rakyat, bersedia melindungi, mengayomi, mendengarkan keluh kesah-nya, serta kebijakan-nya berorientasi kepada kepentingan rakyat.

Pemimpin ibarat ayah dalam keluarga yg bertanggung jawab atas anak dan istri-nya, rela berkorban pikiran, jiwa, dan raga. Semuanya dilakukan demi kebahagian keluarga yang dicintai.

Pemimpin ibarat seorang ibu, yg tulus memberikan kasih sayangnya, membagi waktu untuk mendidik dan merawat anak serta suaminya.

Pemimpin ibarat anak, mendengarkan nasihat dan bersedia diberi sanksi ketika berbuat salah, berbakti kepada kedua orang tua-nya sebagai konsekuensi atas kehidupan dan didikan yg diberikan.

Suhendar adalah ayah, ibu sekaligus anak !!
Pribadi itu saya kenal cukup lama, kurang lebih 8 tahun lalu ketika kita berjuang bersama sebagai seorang aktivis. Beliau adalah sosok yang sangat lantang dan berani ketika membela kepentingan masyarakat. Mendengar dan merespon setiap aduan yg masuk. Sampai saat ini pribadi itu tidak berubah sedikitpun, masih sama seperti dulu. Beliau adalah sosok ayah bagi mereka yg di perlakukan tidak adil dan pejuang atas hak-hak yg direbut.

Suhendar merupakan salah satu pendiri Tangerang Public Transparency Watch (TRUTH), lembaga yang sampai saat ini menjadi mitra kritis pemkot tangsel. Bisa di bilang oposisinya pemkot tangsel non-pemerintahan.

Artinya beliau tau betul bahwa dalam membangun sistem demokrasi yg sehat di perlukan check and balance dan partisipasi seluas-luasnya seluruh elemen masyarakat untuk memberikan ruh atas hakikat demokrasi. Jangan sampai demokrasi di perjuangkan berubah wajah menjadi oligarki apalagi monarki (dinasti). Itulah alasan mengapa dia mendirikan Lembaga TRUTH.

Selain sebagai aktitivis, sekarang beliau juga aktif sebagai salah satu dosen pengajar Hak Asasi Manusia (HAM) dan Hukum Pidana di Universitas Pamulang. Menurut penuturan salah satu mahasiswanya, beliau dikenal sebagai sosok yang tegas, pelit terhadap nilai, dan tidak mentoleransi segala bentuk kecurangan. Artinya disini beliau menempatkan diri sebagai seorang ibu yg mendidik anak-nya dengan prinsip. Sikapnya merupakan artikulasi dari kasih sayangnya demi menciptakan generasi yang berkarakter dan berintegritas.

Suhendar adalah sosok sederhana, lahir dari keluarga yg biasa-biasa saja tidak istimewa, beliau bukan anak seorang pejabat, hanya anak dari tukang ojek. Tumbuh dan besar dari ekonomi yang serba pas-pasan, mungkin yang membedakan-nya adalah tekad yg dimiliki.

Keadaan serba kekurangan membuatnya bangkit untuk tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yg memiliki dendam positif merubah keadaan, dan buktinya dia sekarang sebentar lagi menyelesaikan program studi doktoral (S3) di Universitas Jayabaya. Suhendar adalah bukti anak yg mampu mengangkat harkat dan martabat keluarga.

Sebagai putra asli Tangsel, yg lahir tumbuh dan besar dengan budaya dan tradisi-tradisi lokal, beliau mengenal betul karakter dan watak pembangunan-nya. Jadi wajar apabila beliau berkeinginan merubah Tangsel dengan pengalaman dan kapasitas yg dimiliki.

Teruslah seperti itu, menjadi ayah, ibu dan anak bagi tangsel. Menjadi pejuang hak, pendidik generasi, serta orang yang terus belajar dan berkembang.

Oleh : Ahmad Priatna
Penulis adalah Aktivis Antikorupsi dan pemerhati kebijakan publik

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *