Hipmi Minta Pemerintah Indonesia Jadikan Jepang Sebagai Mitra Dagang Paling Strategis

Ajib Hamdani, Ketua DPP HIPMI Bidang Keuangan
Ajib Hamdani, Ketua DPP HIPMI Bidang Keuangan

Wikinews.id- Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bidang Keuangan & Perpajakan Ajib Hamdani mengingatkan pemerintah agar menjaga hubungan perdagangan strategis dengan jepang. Hal itu disampaikan Ajib pada wikinews.id, Jum’at (23/10/2020).

Ajib melihat jepang adalah mitra dagang yang menguntungkan bagi Indonesia. Selain itu, soal investasi jepang di indonesia selama ini menjadi salah satu yang tertinggi dan pada sektor manufaktur, sehingga bisa menggerakkan sektor riil dan menambah jumlah lapangan kerja.

“Pemerintah harus jeli dalam melihat peluang yang ada. Jepang akan menganggap Indonesia adalah pasar terbaiknya, karena local domestic demand Indonesia yang mempunyai jumlah penduduk 267 juta orang, terbesar nomor 4 sedunia. Dan bagusnya lagi investasi tertinggi Jepang di Indonesia adalah sektor manufaktur” Ungkap ajib melalui pesan WhatsApp pada wikinews.

Ajib mendorong agar pemerintah secepatnya mengikat jepang dalam berbagai kesepakatan perdagangan yang win-win solution.

“Pemerintah harus membuat kesepakatan yang bersifat win-win dengan pemerintah Jepang, diantaranya adalah transfer teknologi dan investasi di pengembangan Sumber Daya Manusia” Tambahnya.

Curva neraca perdagangan indonesia-jepang (sumber: lokadata)

Selain itu, Ajib juga meminta pemerintah indonesia dapat menekan jepang, agar memberikan kemudahan impor komoditas-komoditas andalan indonesia, terutama disektor agro dan hasil laut.

“pemerintah Indonesia perlu membuat strategi yang dapat menekan pemerintahan Jepang, agar memudahkan masuknya komoditas-komoditas andalan Indonesia ke jepang, diantaranya komoditas hasil agro, maritim, perkebunan, dll” Tutupnya.

Dikutip dari lokadata, Pada tahun 2019 neraca perdagangan Indonesia dengan Jepang hanya mencapai US$0,32 miliar. Nilai ini menurun signifikan hingga 72,28 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut diakibatkan oleh penurunan ekspor hingga 18,08 persen yakni dari US$19,47 miliar pada 2018 menjadi US$15,95 miliar pada 2019.(zu)

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *