Ibn Sina, COVID-19, Dan Tumbuhan Obat Penangkal Wabah

Oleh : Dani Ramdani

Di tengah suasana wabah Covid-19 yang melanda umat manusia di banyak negara, ada beberapa informasi yang lalu-lalang di media sosial terkait dengan kehadiran kembali sosok Ibn Sina, Prince of Physicians. Pertama, tersebarnya meme atau poster yang berisi “Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat dan Kesabaran adalah awal dari kesembuhan”.

Quotes tersebut kemudian menjadi sebuah artikel renyah dan bermanfaat menenangkan umat, yaitu di laman islam.nu.or.id, ditulis oleh Muhammad Ishom pada 3 April 2020 dengan judul “3 Tips Ibnu Sina saat Menghadapi Krisis Kesehatan.” Dalam tulisannya, disebutkan bahwa sumber dari quotes tersebut dari buku berjudul ‘Isy Al-Lahdzah karya Musthofa Husni (2015; 161). Benar memang bahwa kata-kata tersebut tercantum di dalam buku tersebut, namun Musthofa Husni tidak mencantumkan rujukan primer, bahkan dapat dikatakan ia tidak memakai catatan kaki kitab Ibn Sina yang berjudul apa yang ia gunakan.

Kedua, informasi yang menyatakan bahwa metode isolasi atau karantina pertama kali dicetuskan oleh Ibn Sina yang lamanya mencapai 40 hari. Di Twitter, Abdul Kadir Jaelani (Duta Besar Republik Indonesia untuk Kanada) menulis: “Ibn Sina (Avicenna) was the first to designate a method to avoid contagion through 40-day sanitary isolation. He called the method “al-Arba’iniya” (the fortieth), translated literally to “quarantena” in early Venetian language”.

Setelah ditelusuri, ternyata banyak sekali media luar negeri yang memuat artikel terkait dengan ini, semisal tulisan di laman moroccoworldnews.com oleh Yahia Hatim 4 April 2020 berjudul Three Islamic Inventions Leading the Global Fight Against COVID-19. Dalam uraiannya, Hatim menerangkan penemuan sabun antibakteri dan alkohol sebagai desinfektan oleh Abu Bakar Muhammad Ibnu Zakariya Al Razi dan metode Karantina untuk menekan penyebaran virus oleh Ibn Sina.

Di dalam negeri sendiri, laman detik.com juga memuat artikel dengan nada serupa berjudul “Ibnu Sina, Ilmuwan Islam Pertama yang Rancang Karantina saat ada Wabah” yang ditulis oleh Rosmha Widiyani pada 8 April 2020. Yang berbeda, ia menambahkan informasi bahwa infeksi dan penyebaran wabah terjadi oleh pencemaran dari mikro organisme. Ia mencantumkan rujukan yang berasal dari tulisan Ihsan Ali dan Ahmet Guclu yang berjudul “Ibn Sina: An Exemplary Scientist,” artikelnya dipublikasi pada september 2012 dan bisa dilihat di laman fountainmagazine.com. Dalam tulisannya itu, Ihsan Ali dan Ahmet Guclu pun tidak jelas kitab Ibn Sina yang mana yang mereka gunakan. Mereka hanya merujuk kepada literatur sekunder.

Saya sama sekali tidak menilai apakah beberapa informasi tersebut bernilai benar atau salah, karena secara konten muatannya bersifat positif dan bermanfaat di tengah situasi kepanikan umat. Namun berhubung saya sedang dalam proses penelitian tesis berjudul Filsafat Cinta dan Mistisisme Ibn Sina, saya merasa terpanggil untuk mencoba cek and ricek keberadaan informasi tersebut di dalam beberapa karya Ibn Sina. Dan sampai tulisan ini dimuat, saya belum menemukan keberadaanya dimana. Jika pun ada di antara pembaca yang tahu dan pernah membacanya, tolong beritahu saya atau membuat tulisan jawaban atas tulisan ini.

Di tengah pencarian atas beberapa karya Ibn Sina, saya menemukan informasi menarik di dalam kitab al-Qānūn fī al-Thibb terkait beberapa jenis tumbuhan obat yang berhubungan dengan penyakit wabah yang terjadi kala itu.

Untuk informasi, kitab tersebut ditulis oleh Ibn Sina secara berkala dan di dalam nuansa pelarian, mengingat pada saat itu Ibn Sina menjadi buronan politik yang terus menerus diburu oleh penguasa. Namun di saat situasi sudah kondusif tepatnya saat dirinya menjabat sebagai seorang wazīr istana, Ibn Sina segera merampungkan kitab ini pada bulan Rabi` al-Awwal 410 H di Kota Hamadan.

Dalam kitab ini, setidaknya dibagi dalam beberapa pembahasan pokok:

1). Penjelasan terkait dengan definisi istilah-istilah dasar yang ada dalam ilmu kedokteran (general matters relative to the science of medicine) serta pembahasan terperinci tentang anatomi tubuh manusia.
2). Penjelasan terkait dengan material dan jenis-jenis obat dan cara penggunaannya (materia medica).
3). Pembahasan tentang cara mendiagnosis jenis-jenis penyakit khusus dan ilmu bedah (special pathology and surgical).
4). Pembahasan mengenai penyakit khusus yang melibatkan lebih dari satu organ tubuh (The cosmetic art) dan
5). Penjelasan tentang formulasi obat-obatan.

Kitab ini begitu berarti bagi perkembangan dunia kedokteran modern. Bahkan di Barat sebelum mengenal ilmu kedokteran modern, kitab ini menjadi rujukan pertama dan utama di beberapa perguruan tinggi selama berabad-abad.

Beberapa jenis tumbuhan obat yang berkaitan dengan penyakit wabah yang direkomendasikan oleh Ibn Sina dalam al-Qānūn jilid II: Al-Utruj (Citrus Medica), Duhn (Costus Arabicus), Rībās (Rheum), dan Tīn Armanī (Red Armenian Bole).

Pertama, Al-Utruj, dalam istilah umum dikenal dengan sebutan Citrus Medica yaitu sejenis buah jeruk. Di dunia pengobatan arab saat itu, olahan kulitnya menjadi obat yang terkenal mujarab. Bagi Ibn Sina, kandungan minyak di dalamnya dapat menetralisir pencemaran udara. “… wewangiannya berfungsi untuk melawan udara kotor dan wabah/epidemi.” (Qānūn jilid II, h. 367-366).

Kedua, Rībās atau Rheum, adalah tanaman herbal yang banyak tumbuh di negara Asia Utara dan Tengah. Tanaman ini digunakan dalam penelitian farmakologis dan dapat digunakan untuk bahan baku obat. Musa Tartik, dkk., dalam artikel The various biological activities of Rheum ribes extract on different types of cell (2015) menerangkan bahwa Ekstrak bunga Ribas dapat digunakan sebagai agen Anti-Trichomonas oleh manusia. Trikomoniasis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh parasit trichomonas vaginalis. Menurut Ibn Sina, tanaman ini berfungsi sebagai obat penahan darah dan pembengkakan. “… [juga dapat mengobati] demam dan bermanfaat dalam campak, cacar, dan wabah tha`un (Qānūn jilid II, h. 667-668).

Ketiga, Tīn Armanī atau Red Armenian Bole, yaitu tumbuhan yang batangnya berwarna merah yang biasa digunakan oleh toko perhiasan untuk memberikan warna ke emas. “… Demam: Ini sangat berguna untuk demam dan wabah. Dilaporkan bahwa sekelompok orang menyelamatkan diri dari bencana wabah hebat karena kebiasaan mereka mengonsumsinya dengan anggur lunak. Untuk tindakan jantung yang menguntungkan pada demam epidemi, harus diambil dengan anggur bersama dengan air mawar. (Qānūn II, h.. 503).

Keempat, Duhn atau Oil Oleum atau Costus Arabicus. Ibn Sina menulis: “… Minyak Costus Arabicus bermanfaat dalam berbagai wabah epidemi, mengubah udara yang tercemar dan kotor serta air yang tergenang menjadi yang harum dan menyenangkan“(Qānūn II, h. 443-444).

Terakhir, untuk pembuktian lebih lanjut apakah tumbuh-tumbuhan tersebut mujarab dalam menangkal wabah Covid-19, saya serahkan ke para dokter dan apoteker. [Redaksi]

Dani Ramdani
[Mahasiswa Pascasarjana UIN Jakarta; Direktur Fata Institute – Fins]

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *