Membangun Mimpi, ”Anak Kampung” Bacalon Walikota Tangerang Selatan

Wikinews.id, Tangsel- Sebagai anak kampung yang lahir dari keluarga dengan ekonomi menengah kebawah, tentu saja kehidupannya terasa berat. Saat ditemui di rumahnya (22/3/2020) Suhendar mengisahkan banyak hal yang harus di lakukan sejak usia sekolah sekedar untuk menutupi kekurangan ekonomi keluarganya, Ia memang pantang menyerah, tekadnya untuk mengubah nasib berbekal pendidikan membuat Suhendar banting-tulang agar bisa kuliah, namun dalam prosesnya menempuh pendidikan tidak semulus orang-orang dengan ekonomi berkecukupan, bahkan ia pernah bekerja di material (kuli toko bangunan, red), jaga warnet, bahkan jualan kopi keliling di pasar hingga menjadi cleaning service di kampus ITI (Institut Teknologi Indonesia). “Saya berfikir, saya harus merubah keadaan menjadi lebih baik, kesadaran itu yang memotivasi saya untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi lagi, dan akhirnya sambil kerja, saya mendaftarkan diri kuliah di unpam, atas saran teman-teman dan tetangga di kampung (Setu tangerang selatan,red) yang sering mendengar kalau di Unpam itu bisa kuliah dengan biaya yang murah.” ucap Suhendar mulai bercerita.

Universitas Pamulang jadi kampus pertama tempat ia meletakkan mimpinya. Ia memilih Fakultas Hukum karena ingin membela orang-orang yang lemah dan juga mempunyai nasib dengan ekonomi serba tidak berkecukupan, Meski dengan susah payah akhirnya ia bisa menyelesaikan Program Sarjananya, kemudian melanjutkan studinya ke Program Magister Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta, dan selangkah lagi ia akan menyelesaikan studi Doktoralnya di Universitas Jayabaya program Doktoral Ilmu Hukum.

Sejak pertama kuliah ia sudah aktif di sejumlah organisasi, antara lain adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia sangat aktif dalam mengikuti proses organisasi, hingga mengikuti beberapa training dan berhasil menjabat di beberapa jenjang kepengurusan, berbekal relasi dan ilmu yang didapatkan di HMI ia bersama teman-temannya mendirikan Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Cabang Tangerang Raya. ”ketika kuliah, saya banyak menimba ilmu di HMI, saya LK1 di Komisariat Ahmad Dahlan, dan dari situ saya berfikir, bahwa jadi mahasiswa itu tidak cukup dengan proses belajar di ruang-ruang formal dalam kelas tapi juga harus di topang dengan kemampuan lain yaitu berorganisasi.” Ungkap pria kelahiran Setu Tangsel ini. “di HMI kita diajarkan tentang hakikat ilmu dan manusia, cara saya belajar berubah, paradigma berfikir dan cara saya kuliah pun berubah.” Lanjutnya bercerita.

“Saya mulai semangat berorganisasi dan berinteraksi lebih banyak, oleh karena itu saya dan teman-teman fakultas hukum membentuk Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (PERMAHI,red) Cabang Tangerang, waktu itu saya dan teman-teman harus bolak-balik Jakarta Pusat – Serang Untirta karena di Banten hanya ada Cabang Banten, setelah PERMAHI Cabang Tangerang Raya terbentuk, saya lanjut LK2 sempat juga jadi pengurus HMI Komisariat Pamulang, HMI Cabang Ciputat hingga HMI Badko Jabotabeka Banten.”kisahnya.

Namanya mulai dikenal sebagai aktivis anti korupsi di Banten lewat kiprahnya bersama lembaga Tangerang Public Transparency Watch (TRUTH) sebuah lembaga swadaya masyarakat di mana ia menjadi salah seorang pendirinya.

Dari HMI ia mengeksplorasi potensi diri. berbekal pengetahuan akademik, dan keberanian mental yang dipupuk melalui proses ber-HMI-nya.

Bersama TRUTH, ia banyak mengkrisi kinerja Pemkot Tangerang Selatan maupun Pemprov Banten, khususnya di sektor pelayanan publik serta tata kelola pemerintahan.

Suhendar pun mulai menjadi narasumber pada kasus-kasus korupsi lokal bersama Indonesia Corruption Watch (ICW) maupun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Saya beserta teman-teman mendirikan TRUTH berawal dari kegelisahaan kita melihat bahwa apa yang harus di dapatkan masyarakat dalam konteks otonomi daerah itu prakteknya justru menyimpang, dan penyimpangan-penyimpangan itu justru banyak merugikan masyarakat tapi masyarakat banyak yang tidak sadar, Kita banyak melakukan penelitian dan kajian hasilnya kita rekomendasikan ke Pemerintah Daerah, belakangan karena kita sering kirim rekomendasi tapi tidak ada perubahan, maka sejak itu kita rubah strategi, sekarang kita kritisi langsung lewat media baik melalui konferensi pers maupun sebar rilis, hingga melaporkan kepada instansi yang berwenang hasil kajian dan temuan kita.” Ucapnya geram dengan kelakuan Pemerintah.

Seiring dengan meningkatnya akvitas, kehidupannya pun mulai berubah. “Saya sangat bersyukur diberi kesempatan mengajar di Universitas Pamulang, sejak menjadi asisten dosen hingga pengajar tetap,” ucap bapak 2 anak yang kini menjadi Kandidat Doktor Ilmu Hukum Universitas Jayabaya, Jakarta. Selain sebagai Pengajar Mata Kuliah Hak Azasi Manusia dan Ilmu Hukum di Universitas Pamulang, Suhendar juga telah memiliki lisensi sebagai Advokat, dan saat ini masih aktif sebagai Advokat di LBH GP Ansor Banten. Sebelumnya pernah menjadi Staf Ahli Komisi II DPR RI, dan sebagai Staf Khusus Gubernur Banten.

Terkait dengan Pilkada Kota Tangerang Selatan 2020, Suhendar menjadi salah seorang yang punya tekad untuk mencalonkan diri, Tentu saja bukan hal mudah. Ia sadar bahwa ini adalah soal “Membangun Mimpi”.“Banyak hal dalam hidup saya yang terwujud karena bermula dari sebuah mimpi. Tentu saja, mimpi adalah pemicunya. Selanjutnya adalah soal kerja keras dan Ridho Allah SWT,” ujar Suhendar yang pernah jadi perwakilan Tangerang Selatan dalam Program Pertukaran Pelajar Antar Daerah ini menegaskan. Baginya yang penting adalah bekerja keras untuk mencapai hasil maksimal, terbukti dari kerja kerasnya tersebut Suhendar mendapat dukungan 54.456 tanda tangan dan surat pernyataan dukungan warga Tangerang Selatan. Ia tahu persis, di tengah gegap-gempitanya Tangerang Selatan, ada juga warga yang mengeluh atau mengadu. Itu sebabnya ia bertekad maju di Pilkada Kota Tangerang Selatan.(redaksi)

Share :

6 thoughts on “Membangun Mimpi, ”Anak Kampung” Bacalon Walikota Tangerang Selatan

  1. Ping-balik: - Wikinews.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *