Menemani jokowi

Oleh : Muchtar Sadili

Menemani Jokowi

Cerita memimpin Jokowi dimulai sejak dia menjadi Wali Kota Solo. Menata kota kecil di Jawa yang punya problem mendasar, pemukiman kumuh bantaran sungai. Pemukiman tersebut adalah potret buram kota-kota di tanah, bahkan dalam sejarah bangsa dan negara di muka bumi.

Jokowi kecil adalah penghuni pemukiman kumuh sekaligus besar hingga dibesarkan sampai akhirnya menjadi orang nomor satu di tanah air. Sarjana teknik sipil UGM ini mencoba membingkai potret kumuh ini terus ditempel di dinding kesadaran kehidupan dirinya, yang harus berguna bagi diri, keluarga, masyarakat dan bangsa.

Kejujuran mendasari teknik sipilnya, yang menjadikan apa yang dilakukan terasa geterannya dalam kehidupan nyata. Minimal dari kejujuran untuk tampil ada adanya; kerempeng dengan baju panjang putih celana hitam dan rambut tersisir klimisp ala kampung.

Memperjuangkan jujur itu bukan tanpa risiko, di hadapan dirinya ada macan pelahap berita. “Ini citra, bukan realitas dari seseorang”, sang macan selalu menyemburkan kalimat pedas kala jujur itu terlihat.

Bahkan jujur itu bukan hebat, tapi menjadi penyebab utama statusnya sebagai media darling yang ditengarai menyesatkan publik. Media darling tidak akan berumur lama dan sempurna, kata sang macan; yang satu saat akan terbongkar topeng citranya itu.

Menjadi media darling sulit disadari oleh Jokowi terindikasi dengan tidak pernah mengambil jarak jauh kalau mengambil keputusan. Pasca keterpilihannya, ada sebagain keputusan memilih menteri yang nota bene mempertaruhkan bangunan kesadaran mapan selama ini.

Semisal mempercayakan Nadiem Makarim untuk mengurai benang kusut pendidikan nasional, yang hampir relatif mapan sudah menjadi jatah ormas besar di tanah air. “Tukang Ojeg” malah diminta maju terdepan membongkar bangunan lama yang terasa bagi dirinya harus dirubuhkan.

Meski begitu, ada juga keputusan yang masih mengundang tanya besar dari publik. Yakni keengganan menerbitkan Perpu KPK yang ditengarai akan menyelamatkan muka masam pemberantasan korupsi.

Dalam periode kedua ini, menemani Jokowi bakal mendapatkan nada kecewa, minimal dengan contoh di atas. Karena keduanya sama-sama mempunyai resistensi tinggi di mata masyarakat.

Masalah pendidikan yang coba diurai telah mendapatkan kecaman. Salah satu tokoh ormas terbesar keagamaan pernah menyatakan, ngurus pendidikan tidak seperti membuat ojeg on line; jadi harus hati-hati; seraya menyatakan terobosan program jangan terkesan baru tapi tidak punya nilai tambah.

Begitu juga soal KPK yang notabene membuat parlemen jalanan menggeliat, sampai banyak korban. Parlemen jalanan meminta Jokowi berpihak dengan mengeluarkan Perpu KPK, karena akan terjadi penggembosan pemberantasan korupsi.

Paling seksi, di mana KPK tidak bisa garang menciduk salah satu petinggi parpol karena tidak ada persetujuan Dewan Pengawas KPK. Ketakutan parlemen jalanan terasa ketika salah satu tersangka bernama Harun Masiku masih buron.

Drama Harun Masiku adalah paling pahit ketika kita semua berusaha menemani Jokowi. Sedini mungkin pertemenan tersebut jangan sampai layu di tengah musim hujan harapan publik pada sang pemimpin.

Seorang yang tadinya dari sebuah kota kecil dengan prestasi memanjakan wong cilik akhirnya harus menikmati pertemenan dengan penuh tanda tanya. Jokowi mengira telah menyesuaikan apa yang dilakukan pada harapan wong cilik di bantaran sungai.

Tapi kini, semua pertemenan itu telah banyak diterka akan penuh warna kecewa. Terutama soal kegiatan membangun infra struktur, saat sama drama Harun Masiku belum juga berakhir.

Selamat berteman dengan Jokowi, tapi harus tetap kritis. Jika saja nanti terjadi upaya tidak mengenakkan, hadapi saja. Sejarah akan mencatat mengkritik teman itu indah dan menyenangkan.

Kalaupun pada akhirnya bernasib tragis gara-gara beda pandangan pada penguasa. Itu tetap nikmat di hadapan rakyat kebanyakan. Para pahlawan akan tersenyum puas pada yang berteman tapi tidak menjilat.

Sejarah bangsa adalah kenikmatan mengkritik ketika berteman, bukan malah menjilat karena harapan materi berlimpah ruah. Berteman adalah mengkiritik.

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *