Menyemai Toleransi sejak Dini, Menuai Bangsa Berkeadilan di Kemudian Hari

Lailatul Qodriyah Founder Ramah Anak Foundation
Lailatul Qodriyah Founder Ramah Anak Foundation

Isu intoleransi di negeri ini bukanlah hal baru. Media sosial yang menjadi salah satu tempat interaksi berbagai macam karakter manusia pun tak luput menjadi ruang toleransi baru yang memberikan kesempatan untuk mengenal keragaman bagi penggunanya.

Sayangnya, masih ada saja pengguna sosial media yang tidak memegang nilai toleransi dalam melihat berbagai fenomena di media sosial mereka.

Barangkali hal tersebut memang menjadi cerminan diri di dunia nyata yang masih belum mampu menerima keragaman yang ada di dunia khususnya di bumi pertiwi. Islam memandang keragaman yang ada di dunia merupakan rahmat Tuhan yang semestinya dijaga demi kemaslahatan umat.

Penanaman toleransi terhadap keragaman yang ada di masyarakat sejatinya dapat dimulai dari usia dini. Anak usia dini adalah anak yang sedang berada dalam masa keemasan atau yang biasa disebut “Golden Age”.

Pada masa ini, perkembangan otak anak sedang pesat, sehingga pesan maupun percontohan perilaku yang diterima anak akan terekam dengan kuat hingga dewasa. Sepatutnya, anak mendapat lingkungan yang baik untuk ditanamkan toleransi atas keragaman dan hal tersebut dapat dimulai dari keluarga. 

Keluarga, selain menjadi tempat anak bertumbuh secara jasmaniah juga memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan moral dan agama yang mengarah pada pendidikan rohani anak. Selain keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat pun sangat berpengaruh terhadap karakter anak.

Perlunya penanaman nilai toleransi pada anak usia dini memiliki pengaruh positif pada perkembangan jiwanya. Anak yang terbiasa dengan lingkungan beragam secara tidak langsung memiliki pondasi untuk menerima keragaman yang ada di lingkungannya.

Pembentukan keluarga yang menjunjung nilai toleransi perlu dimulai dari kesadaran orang tua tentang kondisi masyarakat yang memang sejak awal sudah beragam. Tentu, pengajaran yang dilakukan kepada anak tentang toleransi ini dimulai dari lingkup terkecil yaitu  percontohan perilaku yang diberikan oleh orang yang lebih dewasa. Stimulasi konkrit yang diberikan anak akan sangat bermakna dan berpengaruh terhadap pandangan anak.

Pengenalan anak terhadap keragaman dapat dimulai dengan menceritakan ataupun mengajak anak berdiskusi terkait keragaman yang ada di masyarakat mulai dari perbedaan minat seseorang terhadap sesuatu (makanan, mainan, dsb), sifat dan perilaku teman-temannya, dan perbedaan lain yang dekat dengan anak.

Perlahan namun pasti anak akan lebih peka terhadap diri dan lingkungan sosialnya bahwa bersama tak harus sama dan perbedaan bukan penghalang dirinya untuk tetap bergaul dengan siapa saja tanpa harus membenci perbedaan yang telah ada. Hal ini menjadi bekal anak dalam memahami keragaman Suku, Agama, Ras dan Antar golongan kelak ketika waktunya anak mendengar  cerita ataupun melihat sendiri keragaman tersebut.

Maka, sebagai manusia dewasa yang dianggap sudah memiliki kesadaran serta kematangan berpikir, sudahkah kita menjadi contoh manusia yang toleran bagi anak-anak? Atau malah kita menjadi provokator kebencian terhadap keragaman?

Apapun itu, selalu ingat bahwa sebagai masyarakat, kita tak luput dari tugas menjadi contoh yang baik di ranah pendidikan masyarakat.

Penulis
Laelatul Khodria
Founder Rumah Anak Foundation

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *